MANADO, Nusantaraline.com – Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, melaporkan kondisi terkini infrastruktur pendidikan di daerahnya kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu’ti, sebagai bagian dari upaya percepatan program revitalisasi sekolah.
Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Yulius mengungkapkan bahwa hasil kajian bersama Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menunjukkan tingkat kerusakan fasilitas pendidikan di Sulut masih cukup tinggi.
Menurutnya, kerusakan terbesar terjadi pada jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) yang mencapai sekitar 58 persen. Sementara itu, kerusakan di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) tercatat sebesar 56 persen, dan Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK) sekitar 46 persen.
Kondisi tersebut, kata Gubernur Yulius, menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.
“Kami berharap dukungan pemerintah pusat dapat terus berlanjut untuk mempercepat perbaikan sarana pendidikan, termasuk sekolah-sekolah yang terdampak bencana,” katanya.
Ia menegaskan, peningkatan kualitas pendidikan menjadi faktor penting dalam mendorong pembangunan sumber daya manusia sekaligus meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) daerah.
Di sisi lain, Gubernur Yulius menyampaikan apresiasi atas peluncuran Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden RI Prabowo Subianto bertajuk Wujudkan Sekolah Asri, yang menurutnya menjadi hadiah istimewa bagi masyarakat Sulawesi Utara.
Program tersebut diyakini mampu menghadirkan lingkungan belajar yang lebih layak, nyaman, modern, serta mendukung proses belajar mengajar secara optimal.
“Saya menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian Presiden Prabowo terhadap kualitas infrastruktur pendidikan di daerah,” katanya.
Ia menambahkan, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui sektor pendidikan merupakan salah satu prioritas utama dalam kepemimpinannya.
“Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto dan Bapak Menteri atas perhatian besar bagi Sulawesi Utara. Revitalisasi ini bukan sekadar perbaikan fisik, tetapi langkah strategis menciptakan suasana belajar yang asri dan kondusif bagi anak-anak kita,” tutur Yulius.
Melalui program tersebut, Yulius optimistis wajah pendidikan di Sulawesi Utara akan mengalami perubahan signifikan dalam lima tahun ke depan.
“Kami sangat optimistis, dengan sinergi antara pusat dan daerah, kondisi sekolah di Sulawesi Utara akan semakin baik dan berkualitas. Ini menjadi fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045,” ucapnya.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa Sulawesi Utara menjadi salah satu wilayah prioritas dalam program revitalisasi nasional.
Sebanyak 248 satuan pendidikan masuk dalam daftar perbaikan, terdiri dari 247 sekolah yang akan direnovasi serta satu sekolah baru yang akan dibangun.
Ia menjelaskan, total anggaran yang dialokasikan untuk Sulawesi Utara mencapai lebih dari Rp231 miliar. Khusus Kota Manado, sebanyak 18 sekolah turut masuk dalam program revitalisasi atau sekitar 7,3 persen dari total provinsi.
Secara nasional, realisasi program revitalisasi pada 2025 bahkan melampaui target awal. Dari rencana 10.440 sekolah, jumlah yang berhasil direalisasikan mencapai 16.167 satuan pendidikan.
Untuk tahun 2026, pemerintah menargetkan peningkatan signifikan hingga sekitar 71.744 sekolah sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Selain pembangunan fisik, pemerintah juga mendorong transformasi digital pendidikan melalui distribusi perangkat interactive flat panel (IFP). Sepanjang 2025, sebanyak 288.865 unit telah disalurkan ke seluruh Indonesia dan jumlahnya akan kembali ditambah pada 2026.
Di Sulawesi Utara sendiri, sebanyak 3.760 unit IFP telah didistribusikan ke berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga SLB, sementara Kota Manado menerima 56 unit.
Adapun data tenaga pendidik di provinsi tersebut tercatat sebanyak 38.581 orang, terdiri dari 4.420 kepala sekolah dan 34.161 guru. Sebagian besar kepala sekolah telah tersertifikasi, meskipun masih terdapat yang belum memenuhi standar sertifikasi, baik ASN maupun non-ASN.
“Program revitalisasi ini diharapkan mampu mempercepat pemerataan kualitas pendidikan di daerah serta meningkatkan mutu layanan belajar bagi peserta didik di Sulawesi Utara,” tandas Abdul Mu’ti.
(Ain)







