Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Sulut Meningkat, Segera Lapor di Call Center SAPA 129

MANADO Nusantaraline.com – Mengalami atau melihat tindakan kekerasan kepada perempuan dan anak di sekitar anda, segera lapor SAPA 129!. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Provinsi Sulut Wanda Musu saat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) dengan tema #Stop Kekerasan Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi “Kerja Hebat Semua Kita Terus Melaju Untuk Sulut Semakin Maju” dengan Jurnalis Independen Pemprov Sulut (JIPS) di ruang rapat DP3A, Kamis (22/2/24).

Kadis Wanda melanjutkan, Kementrian Pemberdaayan Perempuan dan Anak memiliki Layanan SAPA 129, bagi kita yang ingin melaporkan tindak kekerasan kepada perempuan dan anak. SAPA menerima layanan melalui hotline 129 dan Whatsapp 08111129129. Call centre 24 jam yang bisa diakses tidak hanya oleh korban kekerasan tapi juga keluarga, masyarakat dan siapa saja yang menduga, mendeteksi atau melihat kasus-kasus kekerasan khususnya terhadap perempuan dan anak.

“Layanan yang diberikan SAPA 129 yakni, penerimaan aduan, pengelolaan kasus, penjangkauan korban, pendampingan korban, mediasi dan penempatan korban dirumah aman,” jelasnya.

Kadis Wanda juga membeberkan bahwa, untuk Sulut sendiri, data kasus dan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak (KtPA) yang ada di 15 kabupaten kota Provinsi Sulawesi Utara sejak tahun 2020 sampai 2022 mengalami tren yang terus meningkat, seperti fenomena gunung es, dan banyak juga yang tidak melapor. Pada tahun 2020 tercatat berjumlah 468 kasus dan 521 korban meningkat hingga mencapai 529 kasus dan 573 korban pada tahun 2021.

“Pada Tahun 2022 meningkat lagi dengan pesat menjadi 885 kasus dan 936 korban,” ungkapnya.

Kadis Wanda pun meminta agar jurnalis (JIPS) bisa mengawal dan mensosialisasikan serta mempublikasikan, agar masyarakat bisa mengetahui, siapa yang bisa di hubungi saat terjadi kekerasan terhadap perempuan dan anak di sekitar kita.

“Kalau kita lihat di Sulut ini kasus kekerasan terhadap anak Merupakan kasus yang tertinggi terjadi disini korbannya anak-anak dan yang menjadi pelakunya adalah orang-orang terdekat,” ujarnya.

Oleh karena itu, lanjut Kadis Wanda, menjadi pekerjaan rumah kita di tahun 2024 bahwa, untuk kasus yang sedang kita tangani ini dapat kita selesaikan, tuntas kemudian juga bagaimana kita mengedukasi masyarakat.

“keterlibatan media itu sangat penting, mengingat masyarakat tidak dapat mengakses semua ini tanpa adanya Media,” tukasnya.

Kadis Wanda juga menambahkan, dalam sebuah kasus harus terus dikawal agar dapat dilihat sejauh mana hal ini kenapa belum terselesaikan harus terus diekspos sampai kasus ini tuntas.

“Pemerintah harus hadir di tengah-tengah masyarakat untuk menyelesaikan masalah itu bukan untuk menaikan pamor, ini yang memang banyak belum terekspose dan banyak orang mengambil keuntungan dari setiap kasus-kasus yang viral,” bebernya 

Turut serta mendampingi dlama Rakor, Kepala UPTD PPA Marsel Silom dan Kabid Data dan Informasi Dina P3A Sulut Jemmy Pinangkaan serta Koordinator JIPS Irfan Sembeng. 

(ain)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *