Kontestasi Merebut Simpati Pemilih

Headline, Manado, Politik385 Dilihat

Oleh : Teddy Tandaju, SE., MBA (Adv.)Dosen Prodi Manajemen Unika De La Salle Manado


Pertarungan
merebut simpati masyarakat tentunya mewarnai masa-masa kampanye yang barusan kita lewati. Hal ini sangat dirasakan di seluruh tingkat pemilihan; dari calon legislatif (Caleg) Kabupaten/Kota hingga pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden (paslon) yang telah melewati lima tahapan debat.

Selama debat berlangsung, berbagai program kreatif dipaparkan oleh para masing-masing paslon untuk meyakinkan masyarakat. Warga disuguhkan berbagai isu politik yang menjadi ‘senjata serang’ masing-masing paslon. Dukungan terbesar terhadap salah satu paslon diperoleh dari partai pengusung utama beserta koalisinya.

Pemilu 2024 menjadi sangat menarik bagi warga bumi pertiwi, khususnya untuk putaran pemilihan presiden dan wakilnya. Tiap selesai debat presiden dan wakilnya, beragam reaksi akan ditunjukkan warga baik secara langsung khususnya di media sosial. Jagat digital akan diserbu jutaan netizen dengan beragam reaksi dan komentar menjatuhkan ataupun mendukung masing-masing paslon. Tentunya salah satu tujuan debat terbuka untuk menarik simpati pemilih agar dapat melihat kemampuan dan pengetahuan paslon sebagai pemimpin negara. Perhelatan debat dapat mempengaruhi pemilih yang belum secara pasti menentukan pilihannya; namun, menunggu moment debat sebagai basis pertimbangan pilihan.

Selain pendukung masing-masing calon, tentu terdapat kelompok besar pemilih yang belum menentukan pilihannya. Para pemilih ini secara garis besar dibagi dalam tiga tipe (Effendi 2023): emosional, emosional-rasional, rasional. Pemilih emosional atau sering disebut tradisional adalah pemilih yang memiliki hubungan emosional yang sangat kuat karena telah terbentuk sejak lama yang keterkaitannya berasal dari agama, budaya ataupun pengaruh reference group khususnya anggota keluarga.

Pemilih tipe ini agak mudah terprovokasi dan sangat cepat merespon isu sehubungan dengan pilihannya. Erizen (2018) membagi tipe ini ke dalam dua jenis; aktif dan pasif. Yang aktif akan segera bereaksi, dan pasif agak menarik diri namun tetap memberikan reaksi walaupun tidak segencar tipe aktif.

Sedangkan kelompok emosional-rasional adalah karakter di mana pemilih cenderung diam ketika melihat isu yang bersifat agama, identitas dan simbolik karena mereka membutuhkan waktu untuk memproses penerjemahan informasi yang diterima (Malik 2018). Pemilih tipe ini masih mampu merasionalkan pilihan mereka dari sentuhan emosional. Dengan demikian, pemilih tipe ini akan berada di posisi ‘terjebak’ dikarenakan jika satu sisi emosional lebih tinggi, maka kecenderungan dia akan berpihak pada emosinya, dan sebaliknya.

Kategori terakhir adalah Pemilih Rasional. Pemilih dalam group ini yang berpikir secara logis, dan mengesampingkan faktor emosional. Pemilih tipe ini mengedepankan fakta dan data dalam mengambil keputusan dan tidak terpengaruh oleh sisi emosional.

Setelah melewati masa sosialisasi/kampanye para calon legistaltif dan paslon, dapat dilihat adanya keterwakilan bagi ketiga paslon dalam pemilihan tahun 2024 ini; ada paslon yang membidik tipe emosional, emosional-rasional, dan rasional. Namun demikian, ada satu tipe pemilih yang masih sulit diprediksi keputusannya, yakni undecided voters atau sering dikenal dengan istilah ‘swing voters’. Tipe ini masih belum menentukan pilihannya hingga batas akhir. Mereka cenderung menunggu masa injury time hingga mendapatkan berbagai masukkan yang dipikirkan secara rasional maupun emosional. Kebanyakan para swing voters datang dari generasi milenial yang banyak mengakses internet dimana generasi ini mudah mendapat digital informasi yang mengerucutkan pilihan (Rizkinaswara 2019). Perlu diperhatikan bahwa swing voters ini berpotensi menjadi ‘Golongan putih – golput’. Angka golput sendiri terlihat naik dari tahun ke tahun dimulai dari 7.3% pada pemilu 1999, 15.9% di 2004, 28.3% di 2009, dan 29.1 di Pemilu 2014 (Surya 2023). Kecenderungan swing voters akan terus naik jika mereka tidak yakin dengan apa yang mereka alami, pikirkan dan rasakan.

Para paslon harus turut membidik para swing voters yang dapat mereka jangkau dari dua sisi; emosional maupun rasional. Dilihat dari sisi emosional, para paslon beserta tim suksesnya harus ekstra hati-hati untuk tidak salah melangkah dalam mengambil hati pemilih dikarenakan faktor budaya warga masyarakat Indonesia turut berpengaruh dalam menentukan keputusan akhir.

Mari kita lihat fenomena Indonesian Idol tahun 2004 menampilkan Delon Thamrin yang sering diberikan komentar jelek oleh para Juri. Bukannya, voting Delon menyurut, malahan para voters semakin memberikan dukungan. Hal ini diakibatkan banyaknya warga yang merasa iba dan tidak lagi berpikir rasional bahwa memang kualitas suara Delon tidak sebagus kontestan lain. Apa hasilnya, Delon tampil sebagai finalis dalam ajang perdana Indonesian Idol.

Fenomena Delon bisa saja terjadi dalam kontestasi paslon, dimana pilihan warga cenderung berpihak pada sisi emosional. Rasa prihatin, iba, simpatik terhadap paslon yang sering di-‘bully’ membuat pemilih malahan berpindah pilihan dan dukungan.

Para tim sukses harus tanggap tentang hal ini. Ada pemilih yang sangat rasional cara pikirnya, namun banyak juga yang berada di sisi emosional. Terlalu masif menjelek-jelekkan paslon lain, bisa saja menjadi ‘boomerang’ bagi paslon yang diusung. Pemilih yang awalnya telah menentukan pilihannya, dapat berbalik arah dan berganti pilihan.

“Dulu kawan sekarang lawan”. Begitulah dinamika dunia politik. Membahas artikel ini, serasa membahas topik Perilaku Konsumen yang pernah saya ampu.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *