Worang : Dedolarisasi, Indonesia Gabung BRICS Emosional atau Rasional ?

Ekonomi, Headline, Manado595 Dilihat

MANADO Nusantaraline.com – Belakangan ini ramai berita tentang Dedolarisasi yang digagas oleh China, yang menggagas dan memimpin empat negara yakni, Brazil, Russia, India, China dan South Africa atau BRICS.
Diketahui, yang dimaksud dari ‘Dedolarisasi’ adalah untuk melepaskan dominasi mata uang America US dollar, ketergantungan terhadap US$, dan menggantinya dengan mata uang China ‘Yuan’ atau mata uang baru yang akan ditetapkan nanti oleh BRICS.

Terkait hal tersebut, dikatakan Frederik Worang yang merupakan Staf Ahli Direksi Bank SULUTGO mengatakan bahwa, menurut pemberitaan ada 18 negara lain termasuk Indonesia yang akan bergabung dengan BRICS.

“Pertanyaan besarnya, apakah Indonesia akan bergabung dengan BRICS dan melepaskan US$ dalam perdagangan luar negeri dan investasi? Jawaban singkatnya “Jangan terburu buru”,” ungkapnya, Senin (1/5/23).

Lanjut dikatakan Worang, Ada beberapa hal harus dilihat m yakn, Kestabilan mata uang faktor yang utama dalam perdagangan international.  Sampai saat ini dollar America dipilih oleh negara yang berdagang sebagai alat pembayaran international, karena US$ dianggap stabil atau tidak naik turun secara drastis.

“Contohnya, jika Indonesia berdagang dengan India, alat pembayaran yang digunakan adalah US$ bukan Indonesia rupiah atau India rupee. India tidak mau menggunakan rupiah dan Indonesia tidak mau menggunakan rupee,” ujarnya.

Begitu juga, tambah Worang, berdagang dengan China, nilai barang ditentukan dengan kurs US$ bukan Yuan.

Setelah mendapatkan US$ uang ini digunakan oleh pemerintah (dan swasta) untuk membayar barang yang dibeli, misalnya minyak dari Saudi Arabia.

“Hal ini juga dikarenakan Saudi Arabia sebagai pemimpin OPEC mempunyai kesepakatan dengan America untuk menggunakan US$ dalam setiap pembayaran minyak. Maka muncul istilah ‘Petro Dollar’,” terangnya.

Worang melanjutkan, walaupun export nonmigas Indonesia terbesar ke China yaitu sebesar US$6.milyard disusul America US$2.6m dan India US$2.5m, namun Indonesia banyak menjalin hubungan dagang dengan negara G7 Italy, Inggris, Perancis, Canada, dll.

“Juga dengan negara ASEAN Singapore, Malaysia, dan lain-lain yang jika digabung nilainya ratusan milyar dollar. Sehingga untuk melancarkan perdagangan alat pembayaran yang diterima oleh negara-negara diatas adalah US$,” katanya.

Dollar America sampai saat ini masih menjadi ‘safe haven’ dimana para pebisnis global dan mereka yang punya kelebihan dana menyimpan uangnya dalam bentuk US$ karena merasa aman dan nyaman.

“Ada baiknya dunia tidak tergantung pada satu mata uang namun kekuatan atau dominasi dollar America sampai saat ini harus diperhitungkan benar benar,” tandas Worang.

(Ain)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *